Arunika kembali mengantarkan ibu cahaya
Terasa berwarna di hari dan bulan yang istimewa
Bukan, bukan seperti perhelatan tumpuk usia
Namun seperti ayakan manusia, jadi apa kelak dewasa
Tak gentar bibir ini untuk terus berdoa
Juga disambi kewajiban utama penuh dinamika
Awan yang bertiup seakan hampir membawa senja
Tak sabar rasanya menanti kata pembuka gerbang asa
Karena yang hanya beberapa minggu
Jadi terasa berwindu-windu
Oh Tuhan, mengapa seketika tubuhku jadi terbelenggu?
Biarlah ku dengar dulu kabar selain aku
Agar hembusan nafas tak kian beradu
Agar riuhnya prasangka perlahan siap tuk dipandu
Ketika terhembus kabar baik diluar sana
Entah mengapa ragaku mulai terbujur kaku
Semakin aku menghela
Semakin menghentikan denyut waktu
Firasat itu mungkin benar
Dan nyatanya memang benar
Kini aku lebih rumit dari sekelumit akar
Aku seperti terbakar
Tak ada satupun kata yang berani terlontar
Seakan seisi ruangan meminta berdamai pada nalar
Tak bisa dimungkiri hadirnya rasa berontak
Antara pikiran dan hati yang kian menyentak
Ku pastikan lagi sampai berkali-kali
Hingga tak jua kudapati sebagaimana yang ku ingini
Sebagian berkata "tak apa" agar tetap tenang
Namun aku, ingin sekali seketika lenyap dan menghilang
Dosa sekali aku
Sampai menyimpan pilu saja aku tak mampu
Ku coraki kewajiban dengan tangisan
Kebahagiaan bersama kekecewaan
Cerahnya hari dibaluti mendungnya hati
Ku buat kacau sanubari saudari
Lemah sekali diri ini rasanya
Sampai bangkit dari keterpurukan saja aku tak kuasa
Beruntung malam itu tidak hujan
Yang alunan derasnya hanya menambah kepiluan
Bersyukur aku disertai bintang-bintang
Yang alunan derasnya hanya menambah kepiluan
Bersyukur aku disertai bintang-bintang
Yang terus mengundang berbagi kilau terang
Aku mohon,
Teruslah mengundang dan percayalah sekarang
Aku bukanlah aku,
Jika sudah berancang pulang sebelum menang.
-ارش-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar